Renungan Ayat Suci Al-Qur'an

Rabu, 19 Januari 2011

Wisata Labusel Membutuhkan Sentuhan Pembangunan

Selain perkebunan sawit dan karet, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) memiliki potensi obyek wisata layak untuk dikembangkan. Misalnya wisata satwa gajah di Desa Aek Raso. Wisata satwa ini memiliki daya tarik tersendiri untuk menarik wisatawan lokal maupun nasional.

Namun, penataan di sekitar wisata satwa ini masih kurang, sehingga memutuhkan sentuhan dari pemerintah daerah. Objek wisata favorit ini seharusnya memiliki penangkaran gajah sebagai perlindungan satwa yang lebih dikenal dengan nama taman Holiday Ressort. 
Prasarana jalannya telah rusak parah sehingga pengunjung sulit menjangkau tempat wisata itu. Bila berkunjung ke Holiday Ressort, debu tanah liat yang berterbangan saat musim kemarau dan jalan yang licin saat hujan merupakan factor utama tantangan yang dihadapi calon pengunjung sehingga menimbulkan keengganan untuk berkunjung. Tak kalah mempengaruhi keengganan masyarakat untuk berkunjung ke Holiday Ressort adalah kurangnya tata kelola hutan lindung sebagai ekosistem gajah hingga kehidupan gajah yang dilindungi tersebutpun terancam punah karena dari sekian ribu hektar lahan hutan lindung, kini hanya tinggal 50 hektar yang tersisa, itupun hanya berupa hamparan rumput. Bahkan, sesuai dengan informasi yang dieroleh dari petugas pelatih gajah di Holiday Ressort bernama Kariadi, karena areal Holiday Ressort hanya tinggal hamparan, seekor gajah mati disambar petir pada 20 April 2010 yang lalu. Pemerintah tidak tegas merupakan faktor utama sehingga lahan hutan lindung sebagai ekosistem gajah luasnya ribuan hektar kini hanya tinggal 50 hektar karena sebagian besar lahan Holiday Ressort telah digarap oleh orang yang haus akan kekayaan tanpa mempedulikan keseimbangan lingkungan. Pemandangan pemandangan taman wisata alam Holiday Ressort tidak lagi memiliki daya tarik bagi wisatawan. Yang mana, untuk menarik wisatawan, pihak terkait dapat memulai dengan perbaikan akses menuju objek wisata, terpenuhinya operasional di lapangan, tata kelola hutan lindung yang menjadi ekosistem gajah tersebut menjadi layaknya ekosistem gajah di alam bebas. 

 Kemudian Istana Kotapinang yang menyimpan segudang cerita yang dulunya pernah mencapai puncak kejayaanya dan kini hanya tinggal puing-puing bangunan tua angker karena  tak "terjamah " oleh sentuhan rehabilitasi pembangunan. Istana Kotapinang yang merupakan peninggalan sejarah Kotapinang dan juga merupakan kerajaan Kesultanan yang dulunya pernah mencapai puncak kejayaanya masa tampuk kepemimpinan Tengku Mustafa ke 12 (kini tinggal puing-puing bangunan terlihat angker karena tak terjamah rehabilitasi). Padahal situs bersejarah merupakan salahsatu ikon Kotapinang yang patut dilestarikan dan dipugar sebagai asset pemerintah, sebagai symbol kejayaan peradaban masyarakat Kotapinang yang pernah ada dan berpotensi menjadi objek wisata berkelas lokal dan Nasional. 

Begitu juga sungai Barumun yang dengan gagahnya mengalir membelah Kabupaten Labusel dengan setia menunjang kehidupan khususnya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelay an yang bermukim di pinggiran sungai tersebut. Sungai ini memiliki nilai histories dan kaya akan sumber daya yang terkandung di dalamnya, dengan ikan baungnya yang khas,  terkenal akan kenikmatan dan kandungan gizinya menjadikan kuliner ini makanan yang special di daerah ini. 

Sungai Barumun yang memiliki aliran panjang dengan gagahnya mengalir membelah Kabupaten Labusel dengan setia menunjang kehidupan masyarakat daerah setempat yang dapat dijadikan sebagai tempat para wisata lokal untuk beristirahat dirumah makan menikmati makanan hasil tangkapan para nelayan seperti ikan baung, ikan patin, ikan udang gala, ikan dung-dung, dan lain-lainya, sambil memandangi keindahan sungai yang tenang dan mendengarkan keindahan suara gemericik air yang mengalir akan membuat selera makan  para pengunjuk rumah makan yang berada dipinggiran sungai Barumun, tepatnya jalan Labuhan, Kelurahan Kotapinang.semakin tinggi. 

Melirik potensi tempat wisata alam tersebut, selayaknya untuk diketahui hingga saat ini potensi wisata tersebut belum mendapatkan perhatian serius untuk dikelola agar dapat menarik perhatian wisata local maupun nasional sehingga dapat menciptakan lapangan tenaga kerja serta dapat dijadikan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan peningkatan kesejahteraan masayarat. 

Betapa spesialnya, ikan ini sehingga menjadi salah satu unsur logo Pemkab Labusel. Sangat di perlukan penataan kembali di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) khususnya di sekitar jembatan dengan memberikan sedikit sentuhan agar telihat elok, indah, bersih dan nyaman untuk di kunjungi. Mungkin dengan usaha lain dengan mendirikan semacam joglo atau semacam tempat persinggahan untuk sekedar mengusir lelah dan kepenatan yang dibuka bagi khalayak umum tentunya bersifat non komersil atau bisa juga dengan menciptakan suasana hijau dan asri di tepi sungai berumun pada daerah aliran air itu yang pengelolaannya menjadi tanggungjawab pemerintah daerah dan masyarakatnya. 

 Sudah menjadi kodrat manusia selalu di dera rasa penat dan jenuh setelah beraktivitas dan bekerja untuk meraih eksistensi dilingkungannya agar tetap survive. Adalah manusiawi ketika manusia terbentur pada rasa jenuh, bosan dalam menjalani ritme kehidupan yang serba kompleksitas dan ketidakpastian. Manusia akan mencari berbagai macam cara dalam mengatasi rasa jenuh tersebut, baik itu dengan berbuat sesuatu yang menurutnya menyenangkan dengan meluangkan waktu sejenak beraktualisasi dan Refreshing. Tercatat bahwa sekitar abad ke – 12, manusia telah melakukan perjalanan dengan berlayar melintasi Samudera Pasifik, Malaka dan Atlantik dengan menempuh perjalanan beribu-ribu mil yang didasari adanya rasa kesenangan dan keingintahuan   yang kuat terhadap dunia luar. tanpa disadari kaum tersebut sedang melakukan bentuk perjalanan wisata klasik. 

Di era modern, kebiasaan dan trend melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dan tinggal di tempat tersebut dalam batas waktu tertentu demi kesenangan selanjutnya disebut sebagai wisata. (*)
 
Penulis: Wartawan METRO ASAHAN

0 komentar:

Posting Komentar

~ Keep Respect & Peace ~